Kode Etik Profesi Akuntan Publik
Sehubungan dengan perkembangan yang terjadi dalam tatanan global dan tuntutan transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar atas penyajian Laporan Keuangan, IAPI merasa adanya suatu kebutuhan untuk melakukan percepatan atas proses pengembangan dan pemutakhiran standar profesi yang ada melalui penyerapan Standar Profesi International. Sebagai langkah awal IAPI telah menetapkan dan menerbitkan Kode Etik Profesi Akuntan Publik, yang berlaku efektif tanggal 1 Januari 2010. Untuk Standar Profesional Akuntan Publik, Dewan Standar Profesi sedang dalam proses “adoption” terhadap International Standar on Auditing yang direncanakan akan selesai di tahun 2010, berlaku efektif 2011.
Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang baru saja diterbitkan oleh IAPI menyebutkan 5 prinsip-prinsip dasar etika profesi, yaitu:
1. Prinsip Integritas
2. Prinsip Objektivitas
3. Prinsip Kompetensi serta Sikap Kecermatan dan Kehati-hatian Profesional
4. Prinsip Kerahasiaan
5. Prinsip Perilaku Profesional
Selain itu, Kode Etik Profesi Akuntan Publik juga merinci aturan mengenai hal-hal berikut ini:
Seksi 200 Ancaman dan Pencegahan
Seksi 210 Penunjukan Praktisi, KAP, atau Jaringan KAP
Seksi 220 Benturan Kepentingan
Seksi 230 Pendapat Kedua
Seksi 240 Imbalan Jasa Profesional dan Bentuk Remunerasi Lainnya
Seksi 250 Pemasaran Jasa Profesional
Seksi 260 Penerimaan Hadiah atau Bentuk Keramah-Tamahan Lainnya
Seksi 270 Penyimpanaan Aset Milik Klien
Seksi 280 Objektivitas – Semua Jasa Profesional
Seksi 290 Independensi dalam Perikatan Assurance
(Ringkasan materi pada acara Sosialisasi Kode Etik Profesi Akuntan Publik di Universitas Kristen Satya Wacana, Jumat, 16 Oktober 2009 – Indira dan Cahya)
Monday, 22 February 2010
Rangkuman mata kuliah etika profesi minggu 1
ETIKA PROFESI
Pengertian Etika
• Etika berasal dari bahasa Yunani “ethos” artinya karakter, watak kesulitan atau adat.
• Menurut Martin (1993), “etika adalah tingkah laku sebagai standart yang mengatur pergaulan manusia dalam kelompok sosial”.
• Menurut Drs. H Burhanudin Salam, etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.
• Secara umum etika adalah pertimbangan norma dan nilai-nilai yang dapat diterima atau masuk akal dan dijadikan kewajiban dalam diri setiap individu secara timbal balik.
Menurut Keraf (1991:23) terdapat 2 macam etika :
1. Etika Deskriptif
Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya etika deskriptif berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya.
2. Etika Normatif
Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi etika normatif merupakan norma-norma yang dapat menuntun agar manusia dapat bertindak secara baik dan menghindari hal-hal yang buruk sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Motivasi Untuk beretika
1. Mengejar kesenangan pribadi
2. Komitmen Moral
Kedua hal diatas dimotifasi oleh masalah moral dan ekonomi.
Profesi adalah suatu hal yang berkaitan dengan bidang tertentu atau jenis pekerjaan yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian
Etika Profesi adalah studi tentang benar, salah, baik dan buruk yang berkaitan dengan perilaku seseorang dalam menjalankan profesinya.
Pengertian Etika
• Etika berasal dari bahasa Yunani “ethos” artinya karakter, watak kesulitan atau adat.
• Menurut Martin (1993), “etika adalah tingkah laku sebagai standart yang mengatur pergaulan manusia dalam kelompok sosial”.
• Menurut Drs. H Burhanudin Salam, etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.
• Secara umum etika adalah pertimbangan norma dan nilai-nilai yang dapat diterima atau masuk akal dan dijadikan kewajiban dalam diri setiap individu secara timbal balik.
Menurut Keraf (1991:23) terdapat 2 macam etika :
1. Etika Deskriptif
Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya etika deskriptif berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya.
2. Etika Normatif
Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi etika normatif merupakan norma-norma yang dapat menuntun agar manusia dapat bertindak secara baik dan menghindari hal-hal yang buruk sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Motivasi Untuk beretika
1. Mengejar kesenangan pribadi
2. Komitmen Moral
Kedua hal diatas dimotifasi oleh masalah moral dan ekonomi.
Profesi adalah suatu hal yang berkaitan dengan bidang tertentu atau jenis pekerjaan yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian
Etika Profesi adalah studi tentang benar, salah, baik dan buruk yang berkaitan dengan perilaku seseorang dalam menjalankan profesinya.
Sunday, 21 February 2010
Integritas dalam diri manusia
INTEGRITAS
Integritas merupakan sebuah kualitas pribadi. Pribadi yang berintegritas menerapkan prinsip-prinsip etik dalam berprilaku. Integritas biasanya di asosiasikan dengan kejujuran dan kesesuaian antara nilai-nilai dan perilaku. Dengan demikian orang-orang yang memiliki integritas cenderung dipercaya oleh orang lain. Kualitas kepribadian ini biasanya diharapkan dimiliki oleh para pemimpin dan juga orang-orang professional.
Seorang psikolog dari California, Henry could secara khusus menyebut integritas sebagai karakter yang berhasil di dunia nyata. Berikut adalah 7 aspek karakter tersebut menurut Could (2007) :
1. Membangun rasa percaya diri dalam hubungan
2. Berorientasi pada kebenaran
3. Bekerja dengan cara yang menghasilkan dan selesai dengan baik
4. Kemampuan merangkul yang negative
5. Berorientasi pada perkembangan
6. Berorientasi pada hal-hal transenden
Pertanyaan :
Apakah setiap manusia memiliki integritas?
Apakah integritas dibutuhkan oleh setiap individu?
Menurut saya pada dasarnya integritas ada pada setiap diri manusia. Tinggal tergantung bagaimana cara manusia tersebut mengolah integritas yang ada pada dirinya. Apabila seseorang tidak mampu memahami integritas yang ada pada dirinya, maka seseorang tersebut akan menganggap integritas sebagai beban dan seseorang tersebut tidak akan meraih kesuksesan. Namun apabila seseorang mampu memahami dan menguasai integritas yang ada pada dirinya, maka seseorang tersebut tidak akan merasakan integritas sebagai beban, tetapi seseorang tersebut akan menganggap integritas sebagai suatu hal yang harus dikembangkan agar dapat meraih kesuksesan.
Jadi, integritas sangat dibutuhkan oleh setiap individu. Karena dengan adanya integritas setiap individu akan termotivasi untuk meraih kesuksesan.
Integritas merupakan sebuah kualitas pribadi. Pribadi yang berintegritas menerapkan prinsip-prinsip etik dalam berprilaku. Integritas biasanya di asosiasikan dengan kejujuran dan kesesuaian antara nilai-nilai dan perilaku. Dengan demikian orang-orang yang memiliki integritas cenderung dipercaya oleh orang lain. Kualitas kepribadian ini biasanya diharapkan dimiliki oleh para pemimpin dan juga orang-orang professional.
Seorang psikolog dari California, Henry could secara khusus menyebut integritas sebagai karakter yang berhasil di dunia nyata. Berikut adalah 7 aspek karakter tersebut menurut Could (2007) :
1. Membangun rasa percaya diri dalam hubungan
2. Berorientasi pada kebenaran
3. Bekerja dengan cara yang menghasilkan dan selesai dengan baik
4. Kemampuan merangkul yang negative
5. Berorientasi pada perkembangan
6. Berorientasi pada hal-hal transenden
Pertanyaan :
Apakah setiap manusia memiliki integritas?
Apakah integritas dibutuhkan oleh setiap individu?
Menurut saya pada dasarnya integritas ada pada setiap diri manusia. Tinggal tergantung bagaimana cara manusia tersebut mengolah integritas yang ada pada dirinya. Apabila seseorang tidak mampu memahami integritas yang ada pada dirinya, maka seseorang tersebut akan menganggap integritas sebagai beban dan seseorang tersebut tidak akan meraih kesuksesan. Namun apabila seseorang mampu memahami dan menguasai integritas yang ada pada dirinya, maka seseorang tersebut tidak akan merasakan integritas sebagai beban, tetapi seseorang tersebut akan menganggap integritas sebagai suatu hal yang harus dikembangkan agar dapat meraih kesuksesan.
Jadi, integritas sangat dibutuhkan oleh setiap individu. Karena dengan adanya integritas setiap individu akan termotivasi untuk meraih kesuksesan.
Subscribe to:
Comments (Atom)